Kondisi Kesehatan di Palestina: Sebuah Situasi yang Memprihatinkan Di Tahun 2025

lifeso.me 28-02-2025

Penulis : Riyan Wicaksono

Serangan tiga pekan Israel di Gaza utara, tewaskan 820 warga Palestina -  ANTARA News

Palestina, khususnya wilayah Gaza, telah lama mengalami kesulitan besar dalam berbagai aspek kehidupan, dan sektor kesehatan tidak luput dari dampaknya. Rangkaian panjang dari kekerasan, pembatasan pergerakan, blokade, serta kekurangan sumber daya dan infrastruktur yang memadai telah membuat kondisi kesehatan di wilayah ini semakin buruk. Krisis kesehatan di Palestina melibatkan berbagai tantangan, mulai dari kerusakan fasilitas medis hingga tingginya tingkat penyakit menular, kekurangan gizi, dan masalah kesehatan mental.

1. Kerusakan Infrastruktur Kesehatan

Prancis, Spanyol, dan Portugal Kecam Pembantaian Israel di Gaza, Warga  Ditembaki saat Antre Bantuan - TribunNews.com

Infrastruktur kesehatan di Palestina, khususnya di Gaza, sangat terpengaruh oleh konflik yang berkepanjangan. Serangan militer Israel yang terus-menerus menjadi penyebab utama kerusakan pada rumah sakit dan klinik. Fasilitas medis sering kali menjadi sasaran serangan, yang tidak hanya menghancurkan bangunan fisik, tetapi juga merusak peralatan medis vital, serta mengganggu pasokan obat-obatan. Salah satu contoh nyata dari kerusakan ini adalah Rumah Sakit Al-Quds di Gaza yang telah rusak parah akibat serangan udara 2025.

Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hampir 60% fasilitas kesehatan di Gaza rusak atau tidak dapat berfungsi dengan optimal. Rumah sakit sering beroperasi dengan kapasitas terbatas karena kekurangan ruang perawatan, alat medis, serta personel medis yang semakin berkurang. Kerusakan fasilitas ini membuat akses penduduk Palestina ke layanan medis yang memadai semakin terbatas.

2. Kekurangan Obat dan Peralatan Medis

MER-C | Medical Emergency Rescue Committee - Eksklusif dari Gaza Utara :  Kondisi RS Indonesia Bantuan MER-C yang Terus Berjalan di Tengah Situasi  Gaza Utara yang Memprihatinkan

Kekurangan obat-obatan dan peralatan medis adalah salah satu tantangan utama yang dihadapi sektor kesehatan di Palestina. Pasokan medis yang terbatas, yang sebagian besar tergantung pada bantuan internasional, sering kali habis atau tidak mencukupi. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Gaza, sekitar 60% obat-obatan esensial dan 83% peralatan medis penting tidak tersedia. Hal ini membuat perawatan medis yang paling dasar, seperti pengobatan untuk penyakit menular, perawatan untuk luka berat, dan penanganan kondisi medis kronis, sangat sulit untuk dilakukan.

Selain itu, pembatasan pergerakan yang diberlakukan oleh Israel terhadap barang dan orang juga memperburuk situasi ini. Banyak obat-obatan dan alat medis terhambat untuk masuk ke Gaza, dan kadang-kadang, bantuan yang masuk pun tidak sampai ke fasilitas medis yang membutuhkan.

3. Krisis Gizi dan Penyakit Menular

WHO peringatkan krisis kesehatan "amat luar biasa parah" di Gaza utara -  ANTARA News

Di tengah krisis yang berkepanjangan, penyakit menular menjadi ancaman besar bagi kesehatan masyarakat Palestina. Kurangnya air bersih, sanitasi yang buruk, dan kekurangan gizi membuat warga Palestina rentan terhadap penyakit. Di Gaza, lebih dari 90% air tanah tidak dapat dikonsumsi karena tercemar, yang menyebabkan tingginya angka penyakit yang ditularkan melalui air seperti diare, kolera, dan infeksi saluran pernapasan.

Selain itu, karena kelaparan dan gizi buruk yang melanda banyak keluarga di Gaza, tingkat malnutrisi semakin meningkat, terutama di kalangan anak-anak. Menurut data yang dirilis oleh UNICEF, lebih dari 40% anak-anak di Gaza mengalami kekurangan gizi, yang berdampak langsung pada perkembangan fisik dan mental mereka.

4. Hambatan Akses ke Layanan Kesehatan

Israel Serang Gaza Lagi Usai Gencatan Senjata Berakhir, 21 Orang Tewas

Pembatasan yang diberlakukan oleh Israel, termasuk pembatasan pergerakan orang, barang, dan layanan, membuat akses ke perawatan kesehatan menjadi sangat terbatas. Warga Palestina yang membutuhkan perawatan medis yang lebih kompleks sering kali tidak dapat meninggalkan Gaza untuk mencari pengobatan di luar negeri. Banyak pasien yang membutuhkan perawatan darurat, seperti perawatan kanker, operasi jantung, atau pengobatan untuk penyakit kronis, tidak dapat memperoleh pengobatan yang mereka butuhkan karena pembatasan ini.

Selain itu, faktor geografis dan logistik lainnya juga menghambat upaya untuk memberikan bantuan kemanusiaan yang efektif. Meskipun organisasi internasional, seperti Palang Merah Internasional dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), berusaha memberikan bantuan medis, mereka sering kali tidak dapat mengakses beberapa daerah di Gaza yang membutuhkan bantuan paling mendesak.

5. Kesehatan Mental: Dampak Jangka Panjang Konflik

Perang di Gaza Rusak Kesehatan Mental Warga Palestina, Terutama Anak-anak

Selain dampak fisik yang jelas, krisis kesehatan di Palestina juga mempengaruhi kesehatan mental penduduknya. Ratusan ribu warga Palestina, termasuk anak-anak, menderita gangguan stres pasca-trauma (PTSD), kecemasan, dan depresi akibat kekerasan yang terus-menerus, kehilangan orang yang mereka cintai, dan hidup dalam ketidakpastian yang tak berkesudahan.

Kesehatan mental sering kali diabaikan dalam konteks krisis kemanusiaan seperti ini, padahal kebutuhan akan dukungan psikologis sangat tinggi. Banyak orang, terutama anak-anak, yang hidup dalam ketakutan dan trauma akibat serangan udara, serangan militer, dan situasi yang tidak menentu. Namun, layanan kesehatan mental di Gaza sangat terbatas dan tidak dapat memenuhi kebutuhan semua individu yang membutuhkan bantuan psikologis.

6. Upaya Internasional dan Tantangan yang Dihadapi

Israel-Palestina: Netanyahu janji akan intensifkan pertempuran, PBB sebut  situasi di RS Al-Aqsa 'pembantaian besar-besaran' - BBC News Indonesia

Organisasi internasional telah berusaha membantu dengan mengirimkan bantuan medis dan kemanusiaan, tetapi tantangan yang dihadapi sangat besar. Akses yang terbatas, hambatan logistik, dan kurangnya dana yang memadai menjadi kendala utama dalam memberikan bantuan yang efektif. Selain itu, ketegangan politik yang tinggi di wilayah ini sering kali menghalangi upaya-upaya diplomatik untuk meningkatkan kondisi kesehatan di Gaza.

Meski demikian, beberapa organisasi, seperti Médecins Sans Frontières (Dokter Tanpa Batas), Palang Merah Internasional, dan UNICEF, terus memberikan bantuan medis dan mendukung program kesehatan di Gaza. Tetapi mereka seringkali terbatas pada kapasitas yang sangat terbatas dan harus beroperasi di bawah kondisi yang sangat berbahaya.

7. Dampak pada Sistem Kesehatan yang Lebih Luas di Palestina

Organisasi Bantuan Global Bicara Bencana Kesehatan di Gaza: Belum Pernah  Ada Horor Seperti Ini | tempo.co

Sistem kesehatan Palestina yang sudah rapuh semakin tertekan oleh kekurangan dana, kerusakan infrastruktur, dan kurangnya tenaga medis terlatih. Banyak tenaga medis di Gaza dan Tepi Barat yang harus bekerja dengan sumber daya yang sangat terbatas dan dalam kondisi yang penuh risiko. Para dokter dan perawat di Gaza sering bekerja dengan peralatan medis yang usang dan terbatas, sementara mereka juga harus menghadapi ancaman keselamatan yang nyata akibat serangan militer.

Kondisi kesehatan di Palestina, terutama di Gaza, sangat memprihatinkan dan membutuhkan perhatian internasional yang lebih besar. Kerusakan infrastruktur kesehatan, kekurangan obat-obatan dan peralatan medis, serta hambatan terhadap akses layanan kesehatan telah menciptakan krisis yang semakin mendalam. Untuk mengatasi tantangan ini, perlu adanya upaya yang lebih intensif dan berkelanjutan dari komunitas internasional dalam mendukung sektor kesehatan Palestina. Bantuan medis yang lebih efektif, dukungan terhadap kesehatan mental, serta pemulihan dan rekonstruksi infrastruktur kesehatan adalah langkah-langkah krusial yang perlu diambil untuk membantu warga Palestina yang tengah berjuang menghadapi krisis kemanusiaan yang sangat berat ini.