Donald Trump Yakin Dapat Capai Kesepakatan Dagang Baru dengan China, Janjikan Penurunan Tarif Jika Terpilih Kembali

Donald Trump Yakin Dapat Capai Kesepakatan Dagang Baru dengan China, Janjikan Penurunan Tarif Jika Terpilih Kembali
Donald Trump Yakin Dapat Capai Kesepakatan Dagang Baru dengan China, Janjikan Penurunan Tarif Jika Terpilih Kembali

lifeso.me, 24 APRIL 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Trump Mulai Melunak, Kini 'Ngarep' Bisa Nego soal Tarif dengan China

Washington, D.C. — Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, kembali menjadi sorotan publik setelah menyampaikan pernyataan ambisius terkait kebijakan dagang Amerika Serikat terhadap China. Dalam sebuah wawancara eksklusif yang dirilis media konservatif nasional pekan ini, Trump menyatakan optimismenya untuk mencapai kesepakatan dagang baru yang lebih baik dengan Beijing apabila ia terpilih kembali dalam pemilihan presiden 2024. Ia bahkan menjanjikan penurunan tarif terhadap berbagai produk asal China, yang selama ini menjadi simbol perang dagang antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia.

Trump menekankan bahwa kebijakan tarif tinggi yang diterapkannya selama masa jabatannya bukan bertujuan permanen, melainkan strategi taktis untuk menekan China agar menghentikan praktik perdagangan yang dianggap tidak adil dan merugikan industri dalam negeri AS. Ia percaya, dengan pendekatan serupa namun disertai niat untuk kembali menjalin hubungan dagang yang sehat, AS dan China dapat menciptakan kesepakatan yang saling menguntungkan.

“Saya mengenal Xi Jinping, dan saya tahu bagaimana cara melakukan kesepakatan. Jika saya kembali ke Gedung Putih, kita akan duduk bersama, dan saya jamin kita bisa capai perjanjian dagang baru yang luar biasa. Dan ya, kita akan mulai menurunkan tarif secara signifikan — tetapi hanya jika China bermain secara adil,” ujar Trump dalam wawancara tersebut.


Latar Belakang: Perang Dagang yang Mendefinisikan Kebijakan Trump

Update Perang Dagang AS: Trump Jilad Ludah Sendiri, Nego ke China

Konflik dagang antara Amerika Serikat dan China menjadi salah satu ciri utama dari kebijakan luar negeri Trump selama menjabat pada 2017–2021. Perang dagang ini dimulai pada 2018, saat Trump menerapkan tarif tambahan terhadap barang-barang impor asal China senilai ratusan miliar dolar AS, sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi defisit per dagang an AS dan menghentikan apa yang dia sebut sebagai “eksploitasi ekonomi oleh China”.

Sebagai respons, China juga memberlakukan tarif balasan terhadap produk-produk pertanian, industri, dan energi dari Amerika Serikat. Ketegangan ini menciptakan ketidakpastian global, mengganggu rantai pasok internasional, dan berdampak signifikan terhadap sektor pertanian dan manufaktur di AS.

Namun, pada awal 2020, kedua negara menandatangani Phase One Deal, sebuah kesepakatan parsial yang mencakup janji China untuk membeli lebih banyak produk pertanian AS dan meningkatkan perlindungan terhadap kekayaan intelektual. Meski kesepakatan tersebut dipuji oleh Trump, banyak pengamat menilai implementasinya tidak mencapai target yang dijanjikan akibat pandemi COVID-19 dan ketegangan geopolitik yang terus meningkat.


Pernyataan Trump: Perubahan Nada Menuju “Perdagangan Damai”

5 Hal Soal Genjatan Senjata Perang Dagang AS dan China

Berbeda dari nada konfrontatifnya pada masa lalu, pernyataan terbaru Trump mencerminkan pendekatan yang lebih pragmatis terhadap hubungan ekonomi dengan China. Dalam wawancara tersebut, Trump tidak hanya menyinggung potensi penghapusan tarif, tetapi juga menekankan pentingnya kestabilan ekonomi global dan perlunya kerja sama antara dua negara raksasa dunia ini.

“Tarif adalah alat negosiasi. Saya menggunakannya untuk memperjuangkan Amerika. Tapi sekarang, dunia telah berubah. Kita harus memikirkan solusi jangka panjang yang menguntungkan para pekerja dan perusahaan kita, tapi juga menjaga kestabilan internasional,” ujarnya lebih lanjut.

Analis memandang perubahan nada ini sebagai strategi politik menjelang pemilu, mengingat Trump tengah berupaya meraih kembali dukungan dari pemilih industri dan pertanian yang sebelumnya terkena imbas dari kebijakan tarif balas dendam China.


Respons Global dan Analisis Ekonomi

Perang Dagang AS-China Makin Sengit, Negara-negara Mitra Tertekan

Pernyataan Trump menarik perhatian pelaku pasar global, para ekonom, serta pengamat kebijakan luar negeri. Beberapa analis menilai bahwa janji untuk menurunkan tarif adalah langkah logis untuk memulihkan kepercayaan bisnis dan memperkuat pertumbuhan ekonomi domestik, apalagi di tengah inflasi global yang belum sepenuhnya reda.

Namun, sejumlah pihak memperingatkan bahwa retorika tersebut tidak bisa dipisahkan dari lanskap geopolitik yang jauh lebih kompleks saat ini. Ketegangan seputar Taiwan, pengaruh teknologi China, dan isu keamanan nasional telah membuat hubungan AS–China lebih sensitif daripada sebelumnya.

“Menurunkan tarif tanpa strategi komprehensif bisa menjadi bumerang. China mungkin melihat ini sebagai kelemahan atau ketidakkonsistenan. Kita membutuhkan kebijakan luar negeri dan ekonomi yang menyatu, bukan hanya janji kampanye,” kata Dr. Evelyn Marcus, pakar kebijakan per dagang an internasional dari Johns Hopkins University.


Dampak Potensial terhadap Industri dan Pemilih AS

12 Update Perang Dagang Trump: China Resmi Jatuhkan Tarif 125% ke AS

Sektor industri dan pertanian merupakan dua kelompok yang sangat sensitif terhadap kebijakan tarif. Saat Trump menerapkan tarif terhadap baja, aluminium, dan komponen teknologi dari China, banyak produsen di dalam negeri harus menanggung biaya bahan baku yang lebih tinggi. Di sisi lain, para petani AS menjadi korban dari pembalasan tarif China terhadap produk seperti kedelai, jagung, dan daging babi.

Dengan janji penurunan tarif, Trump tampaknya ingin menyasar kembali pemilih dari negara bagian industri seperti Michigan, Ohio, dan Pennsylvania — wilayah yang menjadi medan tempur utama dalam pemilu presiden.

Bagi kalangan bisnis, pernyataan ini menjadi sinyal positif atas kemungkinan stabilisasi hubungan dagang yang selama ini tidak menentu. Namun, pelaku pasar tetap menunggu rincian lebih lanjut mengenai bagaimana kebijakan baru tersebut akan dirancang dan dijalankan jika Trump kembali berkuasa.


Kesimpulan: Antara Strategi Politik dan Tantangan Global

Pernyataan Donald Trump yang mengindikasikan kemungkinan penurunan tarif terhadap China jika terpilih kembali sebagai presiden menunjukkan adanya pergeseran dalam pendekatan kebijakan luar negeri dan per dagang an luar negeri yang lebih kompromistis. Meski retorika Trump masih tetap populis, ia tampaknya menyadari bahwa tantangan ekonomi global saat ini membutuhkan solusi yang lebih inklusif dan berorientasi jangka panjang.

Namun demikian, janji tersebut tetap mengundang pertanyaan besar: apakah Trump benar-benar akan berbalik arah dari kebijakan tarif yang menjadi ciri khasnya, ataukah ini hanya bagian dari strategi kampanye yang cermat untuk meraih kembali dukungan politik dari basis pemilih yang sempat kecewa?

Dengan pemilihan presiden AS yang tinggal beberapa bulan lagi, arah hubungan dagang AS–China akan menjadi salah satu isu utama yang diperhatikan dunia. Jika Trump kembali ke Gedung Putih, kebijakan luar negeri dan ekonomi Amerika bisa mengalami perubahan besar, baik dari segi strategi maupun pendekatan terhadap mitra dagang utama seperti China.

BACA JUGA: Ukraina Siap Berunding dengan Rusia, Namun Hanya Setelah Gencatan Senjata yang Nyata

BACA JUGA: Pesawat Delta Air Terbakar di Bandara Florida, 294 Orang Terdampak

BACA JUGA: Pemindahan ASN ke IKN Ditunda: Alasan, Proses, dan Dampak Penundaan