LAMPUNG, LIFESO.ME – Seekor harimau sumatera terekam kamera melintas di depan kandang jebak yang disiapkan oleh pemerintah di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Satwa dengan nama latin Panthera tigris sumatrae tersebut terekam di daerah Pekon Rawas, Kecamatan Pesisir Tengah, pada Rabu (25/12/2024) sekitar pukul 17.05 WIB.
Dalam keterangan pers yang dirilis oleh Polres Pesisir Barat, keberadaan harimau ini mengindikasikan aktivitas satwa liar tersebut masih berlangsung di kawasan tersebut.
BACA JUGA : deretan artis akui diminta fico fachriza pinjam uang mulai dari kiki tba hingga aurel hermansyah
“Harimau terekam di depan kandang jebak. Kandang ini memang sudah kami siapkan sebagai bagian dari upaya mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar,” ujar Kapolres Pesisir Barat, AKBP Alsyahendra, kepada wartawan, Kamis (26/12/2024).
Kronologi Penemuan Jejak dan Rekaman Harimau
Keberadaan harimau sumatera ini diketahui dari laporan warga yang menemukan jejak kaki di sekitar ladang milik mereka. Tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Polres Pesisir Barat kemudian memasang kamera pengintai serta kandang jebak di lokasi yang sering dilalui satwa tersebut.
“Dari hasil pantauan kamera, harimau itu melintas dengan perlahan di depan kandang jebak. Sayangnya, hingga saat ini satwa tersebut belum masuk ke dalam jebakan,” jelas Alsyahendra.
Kamera pengintai yang dipasang juga mengungkapkan bahwa harimau tersebut tampak sehat, dengan gerakan yang gesit. Tim BKSDA menduga bahwa harimau ini merupakan individu yang sebelumnya dilaporkan berada di sekitar kawasan hutan dekat pemukiman warga.
Langkah Mitigasi yang Dilakukan
Pemerintah daerah bersama BKSDA dan Polres Pesisir Barat telah mengambil langkah-langkah strategis untuk menangani keberadaan harimau sumatera ini, antara lain:
- Pemasangan Kandang Jebak
Kandang jebak dipasang di lokasi yang sering dilalui harimau. Kandang ini dilengkapi umpan untuk menarik satwa masuk ke dalam jebakan. - Peningkatan Pengawasan
Tim patroli gabungan melakukan pengawasan di sekitar kawasan hutan dan pemukiman warga untuk memantau pergerakan harimau. - Sosialisasi kepada Warga
Warga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika beraktivitas di ladang atau hutan. Mereka juga diingatkan untuk tidak mengambil tindakan yang dapat membahayakan satwa tersebut. - Kolaborasi dengan Ahli Konservasi
BKSDA bekerja sama dengan para ahli satwa untuk menentukan langkah terbaik dalam menangani harimau ini tanpa membahayakan keselamatannya.
Ancaman dan Perlindungan Harimau Sumatera
Harimau sumatera adalah satwa yang masuk dalam daftar spesies kritis terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Populasinya terus menurun akibat perburuan liar, perusakan habitat, dan konflik dengan manusia.
Saat ini, diperkirakan hanya tersisa kurang dari 600 individu harimau sumatera di alam liar. Oleh karena itu, penanganan konflik seperti ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk melindungi keberlangsungan hidup satwa tersebut.
“Keberadaan harimau sumatera ini menjadi pengingat bahwa kita harus menjaga kelestarian habitat mereka. Jika habitatnya terganggu, maka satwa-satwa ini akan semakin mendekati pemukiman manusia,” ujar Dr. Widya Pratama, ahli satwa liar dari Universitas Lampung.
Respons Warga dan Tantangan di Lapangan
Keberadaan harimau sumatera ini memunculkan beragam respons dari warga. Sebagian besar merasa khawatir akan keselamatan mereka, terutama yang tinggal dekat dengan lokasi penampakan.
“Saya takut kalau harimau itu mendekati rumah kami. Ladang kami juga jadi terancam karena sering ada jejaknya di sana,” ujar Siti Aminah (45), warga setempat.
Namun, warga lainnya justru merasa bangga karena harimau sumatera masih ada di daerah mereka. “Ini tanda kalau hutan kita masih kaya. Tapi, kita harus hati-hati dan jangan sampai membahayakan harimaunya,” kata Rizal (32), warga lain.
Di sisi lain, tantangan yang dihadapi tim penanganan adalah memastikan keselamatan harimau sekaligus mencegah konflik dengan manusia. “Ini bukan hal mudah. Harus ada keseimbangan antara melindungi manusia dan menjaga kelangsungan hidup satwa liar,” jelas Alsyahendra.
Kesimpulan
Keberadaan harimau sumatera di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Upaya mitigasi yang dilakukan pemerintah dan BKSDA menunjukkan komitmen untuk melindungi satwa yang terancam punah ini tanpa mengorbankan keselamatan masyarakat.
Namun, keberhasilan langkah ini memerlukan dukungan dari semua pihak, termasuk warga lokal, ahli konservasi, dan pemerintah pusat. Dengan kolaborasi yang baik, konflik antara manusia dan harimau dapat diminimalisir, sekaligus memastikan kelestarian spesies Panthera tigris sumatrae di alam liar.