lifeso.me,11-04-2025
Penulis: Riyan Wicaksono

Pada bulan April 2025, Presiden China Xi Jinping akan melakukan kunjungan penting ke tiga negara di Asia Tenggara: Vietnam, Malaysia, dan Kamboja, yang dijadwalkan antara 14 hingga 18 April. Kunjungan ini tidak hanya menandai perjalanan luar negeri pertama Xi pada tahun 2025, tetapi juga menjadi langkah strategis di tengah ketegangan yang semakin meningkat antara China dan Amerika Serikat dalam perang dagang yang berlangsung. Kunjungan ini diharapkan mempererat hubungan diplomatik, ekonomi, dan politik antara China dan negara-negara ASEAN, yang sangat terdampak oleh kebijakan perdagangan Amerika Serikat.
Latar Belakang Ketegangan Perdagangan China-AS
Perang dagang antara China dan Amerika Serikat telah berlangsung selama beberapa tahun, dimulai pada 2018 ketika Presiden AS, Donald Trump, memberlakukan tarif tinggi pada barang-barang impor dari China. Tarif ini dimaksudkan untuk mengurangi defisit perdagangan AS dan menekan China agar mengubah kebijakan ekonomi dan teknologi yang dianggap merugikan perusahaan-perusahaan AS. Meskipun ada beberapa gencatan senjata dalam ketegangan perdagangan ini, tarif yang diterapkan AS tetap memberatkan ekonomi China, serta negara-negara lain yang menjadi mitra dagang China.
Vietnam, Malaysia, dan Kamboja, meskipun bukan pihak utama dalam perang dagang ini, menjadi negara-negara yang merasakan dampak langsung dari kebijakan tarif AS. Tarif tinggi yang dikenakan pada barang-barang China yang diekspor ke AS mempengaruhi rantai pasokan global yang melibatkan negara-negara tersebut, mengingat mereka memiliki hubungan perdagangan erat dengan China.
Vietnam, misalnya, dikenakan tarif 49% pada berbagai produk yang diproduksi dan diekspor ke AS. Malaysia dan Kamboja juga tidak luput dari dampak tarif tersebut, dengan tarif masing-masing sebesar 46% dan 24%. Dalam upaya untuk mengurangi dampak negatif dari kebijakan tersebut, negara-negara ini telah melakukan negosiasi dengan pihak Amerika Serikat. Namun, China, dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, berusaha untuk membangun kemitraan yang lebih kuat dengan negara-negara ini untuk mengurangi ketergantungan mereka pada AS.
Tujuan Kunjungan Xi Jinping ke Asia Tenggara

Kunjungan Presiden Xi ke Vietnam, Malaysia, dan Kamboja bertujuan untuk memperkuat hubungan diplomatik dan meningkatkan kerjasama ekonomi dengan negara-negara tersebut. Selain itu, ini juga merupakan bagian dari strategi China untuk memperluas pengaruhnya di kawasan Asia Tenggara, yang merupakan wilayah dengan populasi lebih dari 600 juta orang dan pasar ekonomi yang terus berkembang.
1. Meningkatkan Kerjasama Ekonomi dan Perdagangan
Salah satu prioritas utama dalam kunjungan Xi adalah untuk meningkatkan kerjasama ekonomi dan perdagangan antara China dan negara-negara ASEAN. China telah lama menjadi mitra dagang terbesar bagi banyak negara di Asia Tenggara, termasuk Vietnam, Malaysia, dan Kamboja. Kunjungan ini akan mencakup diskusi tentang penguatan hubungan perdagangan, terutama untuk mengurangi ketergantungan pada pasar AS yang semakin bergejolak.
Dalam konteks ini, China akan menawarkan berbagai peluang investasi dalam proyek-proyek besar di bidang infrastruktur, energi, dan teknologi. Sebagai bagian dari Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI), China telah menginvestasikan miliaran dolar dalam pembangunan infrastruktur di Asia Tenggara. Salah satu proyek utama yang dibahas adalah pembangunan jalur kereta api yang akan menghubungkan beberapa negara di kawasan ini, yang dipandang sebagai langkah besar untuk meningkatkan konektivitas regional.
2. Kerjasama Infrastruktur dan Pembangunan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2270568/original/066446300_1530796022-D458CCDE-8812-4C45-8C80-85D3A4DD639E_cx0_cy2_cw0_w1023_r1_s.jpg)
China juga berfokus pada pembangunan infrastruktur di kawasan ini, dengan proyek-proyek besar yang melibatkan pembangunan jalan raya, pelabuhan, dan jalur kereta api yang mempermudah pergerakan barang dan orang. Selain itu, sektor energi, terutama dalam pengembangan energi terbarukan dan energi nuklir, menjadi area potensial bagi kerjasama yang lebih dalam. Dengan semakin berkembangnya kebutuhan energi di Asia Tenggara, China berusaha untuk memperkuat kerjasama di bidang ini, seiring dengan upaya mereka untuk menjadi pemimpin dalam teknologi energi bersih.
Dalam kunjungan ke Vietnam, Xi diperkirakan akan menandatangani hingga 40 perjanjian kerjasama yang mencakup berbagai sektor. Salah satu sektor yang menjadi sorotan adalah sektor transportasi, dengan rencana pengembangan lebih lanjut mengenai jalur kereta api yang menghubungkan Vietnam dan China. Selain itu, kemungkinan besar akan ada diskusi mengenai kerjasama pertahanan, termasuk dalam bidang keamanan siber, kepolisian, serta pertukaran teknologi militer yang lebih intensif.
3. Penguatan Diplomasi dan Kerjasama Politik

Kunjungan ini juga menjadi platform bagi China untuk memperkuat hubungan diplomatik dengan negara-negara Asia Tenggara. Dalam era ketegangan global dan ketidakpastian politik, China berusaha menunjukkan bahwa ia adalah mitra yang dapat diandalkan di kawasan ini. Para pemimpin China seringkali menekankan pentingnya solidaritas regional dan menciptakan kawasan yang lebih stabil dan aman.
Selain itu, kunjungan ini akan memperkuat posisi China sebagai pemimpin dalam reformasi sistem perdagangan global. Dalam beberapa bulan terakhir, China telah berusaha untuk mendukung sistem perdagangan multilateral yang lebih adil dan terbuka, serta menentang kebijakan perdagangan sepihak yang digagas oleh AS.
Potensi Dampak pada Negara-negara ASEAN

1. Vietnam, Malaysia, dan Kamboja
Kunjungan ini menawarkan peluang besar bagi Vietnam, Malaysia, dan Kamboja untuk memperkuat posisi mereka dalam perekonomian global, dengan lebih banyak peluang untuk bekerja sama dengan China dalam proyek-proyek besar. Negara-negara ini dapat mengakses pasar China yang sangat besar dan mendapatkan investasi yang diperlukan untuk mengembangkan infrastruktur dan sektor ekonomi mereka. Namun, di sisi lain, mereka juga harus berhati-hati untuk tidak terlalu bergantung pada China, karena hubungan mereka dengan AS tetap penting dalam konteks geopolitik dan ekonomi.
2. ASEAN sebagai Keseluruhan
Kunjungan ini juga memperlihatkan upaya China untuk memperkuat posisinya di ASEAN secara keseluruhan. ASEAN, yang merupakan blok perdagangan terbesar kedua bagi China, memiliki peran kunci dalam pengembangan ekonomi regional dan global. Dengan meningkatkan kerjasama dengan negara-negara anggota ASEAN, China berharap dapat membentuk aliansi yang kuat yang dapat berdampak pada keseimbangan ekonomi dan politik dunia.
Perspektif Global terhadap Kunjungan Xi
Kunjungan Xi ke Asia Tenggara juga harus dilihat dalam konteks geopolitik yang lebih besar. Kunjungan ini menunjukkan bahwa China tidak hanya berusaha untuk meningkatkan hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara tetapi juga untuk melawan pengaruh AS yang terus berkembang di kawasan ini. AS telah menjadi mitra penting bagi banyak negara ASEAN, baik dalam hal perdagangan, pertahanan, dan teknologi. Namun, di tengah ketegangan perdagangan yang berlarut-larut, negara-negara Asia Tenggara semakin mencari alternatif dalam membangun hubungan ekonomi dan politik mereka.
China juga melanjutkan upayanya untuk membentuk sistem perdagangan yang lebih adil dan berbasis pada prinsip-prinsip multilateral, yang sering kali berbeda dengan kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang cenderung unilateral. Dengan mengunjungi Vietnam, Malaysia, dan Kamboja, Xi Jinping berharap dapat memposisikan China sebagai mitra yang lebih dapat diandalkan, bukan hanya dalam aspek perdagangan tetapi juga dalam aspek keamanan dan stabilitas kawasan.
Kesimpulan
Kunjungan Presiden Xi Jinping ke Vietnam, Malaysia, dan Kamboja pada April 2025 ini adalah langkah penting bagi China dalam memperkuat hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara di tengah ketegangan yang terus berlanjut dengan Amerika Serikat. Kunjungan ini bertujuan untuk memperdalam kerjasama ekonomi, diplomatik, dan politik, serta memperkenalkan China sebagai mitra yang dapat diandalkan di kawasan ini. Di sisi lain, bagi negara-negara ASEAN, kunjungan ini membuka peluang untuk memperkuat hubungan mereka dengan China, meskipun tetap harus menjaga keseimbangan hubungan mereka dengan AS.
Secara keseluruhan, kunjungan ini bukan hanya mencerminkan upaya China untuk meningkatkan posisinya di Asia Tenggara, tetapi juga menunjukkan bagaimana negara-negara ini semakin mendiversifikasi hubungan mereka dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.
BACA JUGA: Kemhan Buka Suara Terkait KKB Papua Bunuh 11 Pendulang Emas di Yahukimo
BACA JUGA: Perang Rusia-Ukraina: Laporan Operasional Lengkap Kuartal Pertama 2025