Komentator AS Ejek Lawatan Xi Jinping ke Asia Tenggara: “Mereka Tak Punya Uang”

Komentator AS Ejek Lawatan Xi Jinping ke Asia Tenggara: "Mereka Tak Punya Uang"
Komentator AS Ejek Lawatan Xi Jinping ke Asia Tenggara: "Mereka Tak Punya Uang"

lifeso.me, 19 APRIL 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Komentator AS Ejek Lawatan Xi Jinping ke Asia Tenggara: Mereka Tak Punya  Uang Beli Produk China

Lawatan Presiden Republik Rakyat Tiongkok, Xi Jinping, ke Asia Tenggara—khususnya ke Vietnam, Malaysia, dan Kamboja—baru-baru ini menjadi sorotan tajam tidak hanya di Asia, tetapi juga di kalangan analis dan komentator politik internasional, khususnya dari Amerika Serikat. Kunjungan yang dimaksudkan untuk mempererat hubungan ekonomi dan strategis China dengan negara-negara di kawasan tersebut justru mendapat sindiran sinis dari sejumlah pengamat AS yang menilai bahwa negara-negara yang dikunjungi “tidak memiliki kekuatan finansial” untuk memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi China.


Latar Belakang Lawatan Xi Jinping

Komentator AS Ejek Lawatan Xi Jinping ke Asia Tenggara: Mereka Tak Punya  Uang

Lawatan Xi Jinping ini dilakukan di tengah persaingan geopolitik yang semakin tajam antara China dan Amerika Serikat di Asia Pasifik. China secara aktif mendorong inisiatif Belt and Road Initiative (BRI), proyek ambisius yang bertujuan membangun infrastruktur global dan mempererat konektivitas antarnegara, khususnya di dunia berkembang. Kawasan Asia Tenggara adalah salah satu kawasan utama dalam agenda ini.

Kunjungan ini juga dilakukan di tengah tekanan ekonomi domestik di China sendiri, termasuk perlambatan ekonomi, krisis sektor properti, dan turunnya investasi asing. Oleh karena itu, penguatan hubungan dengan negara-negara tetangga menjadi salah satu strategi untuk membuka pasar baru dan memperkuat pengaruh diplomatik.


Rincian Lawatan dan Kerja Sama yang Dibangun

PM Australia Berharap Bertemu dengan Presiden China pada KTT di Asia  Tenggara

1. Vietnam

Di Hanoi, Xi Jinping dan pimpinan Vietnam menandatangani 36 dokumen kerja sama bilateral, yang meliputi:

  • Proyek kereta api lintas batas untuk meningkatkan konektivitas antara Tiongkok dan Vietnam.

  • Penguatan kerja sama dalam hal perdagangan pertanian, termasuk akses pasar yang lebih luas untuk produk Vietnam seperti durian dan kopi.

  • Nota kesepahaman tentang kerja sama keamanan siber dan pertahanan.

  • Komitmen untuk menyelaraskan Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) dengan rencana pembangunan Vietnam.

Langkah ini menunjukkan bahwa meskipun Vietnam dikenal memiliki sengketa wilayah dengan China di Laut China Selatan, kedua negara tetap menjaga hubungan ekonomi yang erat.

2. Malaysia

Di Kuala Lumpur, Xi bertemu dengan Perdana Menteri Anwar Ibrahim. Agenda utama kunjungan ini meliputi:

  • Penegasan komitmen untuk memperkuat Kawasan Perdagangan Bebas China–ASEAN.

  • Kerja sama dalam pengembangan pelabuhan, jalur kereta cepat, dan proyek energi hijau.

  • Promosi perdagangan bilateral yang lebih seimbang—Malaysia adalah mitra dagang terbesar China di ASEAN.

Anwar menyambut baik investasi dan kerja sama ekonomi yang ditawarkan oleh China, tetapi juga menekankan pentingnya kerja sama yang adil dan saling menguntungkan.

3. Kamboja

Di Phnom Penh, Presiden Xi dan Perdana Menteri Hun Manet menyepakati 37 dokumen kerja sama, termasuk:

  • Proyek infrastruktur besar, termasuk jalan tol dan jembatan strategis.

  • Pembangunan kawasan industri baru yang ditujukan untuk menarik manufaktur China.

  • Program beasiswa dan pertukaran pelajar, sebagai bagian dari diplomasi budaya.

  • Kerja sama militer dan keamanan yang lebih erat.

Kamboja adalah salah satu sekutu terdekat China di ASEAN dan secara terbuka mendukung banyak kebijakan luar negeri Beijing, termasuk dalam isu Laut China Selatan.


Reaksi dan Kritik dari Komentator AS

Anthony Albanese would not join Joe Biden in calling the Chinese President  'a dictator' | The Australian

Meskipun lawatan ini dianggap strategis oleh pemerintah China dan negara-negara yang dikunjungi, sejumlah komentator Amerika memandangnya dengan skeptisisme. Salah satu narasi yang paling mencolok datang dari media konservatif dan analis geopolitik pro-Barat, yang menyebut bahwa:

Xi Jinping sedang mencoba memamerkan pengaruh global, tapi negara-negara yang dikunjungi justru tidak punya kapasitas ekonomi untuk menjadi mitra yang benar-benar strategis. Mereka tidak punya uang.” — Komentator AS

Kritik ini menyoroti bahwa:

  • Vietnam, meskipun tumbuh pesat, tetap merupakan negara berkembang dengan PDB per kapita rendah.

  • Malaysia menghadapi tantangan ekonomi domestik seperti utang nasional dan ketergantungan pada ekspor komoditas.

  • Kamboja masih sangat bergantung pada bantuan luar negeri dan investasi asing langsung, sebagian besar dari China sendiri.

Kritik ini juga mencerminkan kekhawatiran Amerika Serikat terhadap meningkatnya pengaruh China di wilayah yang secara tradisional dianggap sebagai bagian dari “lingkungan strategis” AS.


Tanggapan dan Perspektif dari China

Trump Akui Persahabatannya dengan Presiden China Bisa Berakhir

China menanggapi kritik ini dengan tenang, menegaskan bahwa:

  • Tujuan kunjungan bukanlah mencari mitra yang “kaya”, tetapi membangun hubungan yang saling menguntungkan dan jangka panjang.

  • China melihat potensi besar di Asia Tenggara dalam jangka panjang, terutama karena pertumbuhan ekonomi, populasi muda, dan keterbukaan terhadap teknologi baru.

  • Diplomasi ekonomi tidak harus berdasarkan siapa yang paling kaya, melainkan pada siapa yang siap bekerja sama secara konstruktif.

Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri China menyebut lawatan Xi Jinping sebagai sukses besar, membuktikan bahwa “Asia Tenggara tetap melihat China sebagai mitra utama, bukan ancaman.”


Kesimpulan: Strategi atau Simbolisme?

Lawatan Xi Jinping ke Asia Tenggara memiliki makna strategis dalam kerangka perebutan pengaruh global antara China dan Amerika Serikat. Meskipun komentar-komentar dari pihak AS mencoba meremehkan lawatan tersebut, realitas di lapangan menunjukkan adanya kemajuan konkret dalam hubungan bilateral antara China dan negara-negara yang dikunjungi.

Meskipun negara-negara seperti Vietnam, Malaysia, dan Kamboja bukanlah kekuatan ekonomi besar, mereka berada di jalur pertumbuhan yang strategis. Melalui pendekatan jangka panjang, investasi, dan kerja sama teknologi, China berusaha menciptakan lingkaran pengaruh baru yang bisa menopang kepentingannya di masa depan.

Kritik dari AS bisa jadi mencerminkan kecemasan Washington terhadap melemahnya pengaruhnya di kawasan, sekaligus tantangan bagi AS untuk membangun hubungan yang lebih konsisten dan inklusif dengan Asia Tenggara.

BACA JUGA: Pidato Pertama Joe Biden Usai Lengser: Seruan Keadilan Sosial dan Kritik terhadap Warisan Pemerintahan Trump

BACA JUGA: Analisis Mendalam: Peningkatan Kemampuan Taktik Perang Tentara Korea Utara di Ukraina

BACA JUGA: Balinuraga: Sejarah Kelam Tanah Lampung dan Bali