“Bekas operasi caesar bukan hanya berupa garis luka di kulit, karena proses penyembuhan juga berlangsung pada jaringan di dalam perut.”
“Pada sebagian perempuan, proses tersebut dapat membentuk adhesi atau perlengketan jaringan, tetapi keberadaannya tidak otomatis berarti akan menimbulkan masalah kesehatan.”
lifeso – Operasi caesar bisa menyebabkan perlengketan organ terdengar cukup alarming, apalagi bagi ibu yang pernah menjalani caesar atau berencana melahirkan dengan prosedur tersebut. Faktanya, perlengketan atau adhesion memang merupakan salah satu kemungkinan setelah operasi di area perut dan panggul, termasuk cesarean section.
Namun, istilah “organ lengket” perlu dipahami secara proper supaya tidak menimbulkan unnecessary panic. Adhesi merupakan jaringan fibrosa seperti jaringan parut yang terbentuk secara abnormal dan menghubungkan dua permukaan jaringan yang secara normal terpisah.
Ketika operasi caesar dilakukan, dokter membuat akses melalui dinding perut dan rahim untuk melahirkan bayi. Seperti operasi lainnya, tubuh kemudian menjalankan proses penyembuhan pada jaringan yang mengalami trauma akibat pembedahan.
Dalam proses normal tersebut dapat terbentuk jaringan parut. Pada sebagian pasien, jaringan penyembuhan berkembang menjadi adhesi yang menghubungkan jaringan atau struktur di dalam rongga perut dan panggul yang sebelumnya tidak saling melekat.
Lokasinya pun tidak selalu sama pada setiap pasien. Literatur medis melaporkan adhesi setelah operasi caesar dapat ditemukan antara rahim dengan kandung kemih maupun antara rahim dan dinding perut bagian depan.
Kok Operasi Bisa Membuat Organ Saling Menempel?
Tubuh sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang normal ketika menyembuhkan luka. Setelah jaringan mengalami cedera akibat operasi, tubuh mengaktifkan respons peradangan dan mekanisme perbaikan jaringan.
Dalam kondisi tertentu, proses penyembuhan tersebut dapat menghasilkan jaringan fibrosa yang akhirnya membentuk hubungan abnormal antara dua permukaan. Mekanisme pembentukan adhesi melibatkan keseimbangan produksi dan degradasi matriks ekstraseluler serta aktivitas fibrinolisis.
Jadi, adhesi bukan berarti operasi caesar dilakukan dengan salah atau tubuh “gagal” menyembuhkan diri. Ini merupakan komplikasi pascaoperasi yang dikenal dalam dunia medis dan juga dapat terjadi setelah berbagai jenis operasi abdomen maupun panggul.
Angkanya cukup bervariasi antarpenelitian karena metode operasi, definisi adhesi, karakteristik pasien, dan cara penelitian dapat berbeda. Konsensus pakar Asia-Pasifik yang diterbitkan pada International Journal of Gynecology & Obstetrics menyimpulkan bahwa insiden dan tingkat keparahan adhesi cenderung meningkat seiring bertambahnya jumlah operasi caesar.
Dokumen tersebut merangkum angka adhesi sekitar 24–46 persen pada caesar kedua, 43–75 persen pada caesar ketiga, serta 48–83 persen pada caesar keempat. Angka ini merupakan rentang dari studi yang ditinjau, sehingga bukan berarti setiap perempuan memiliki risiko individual persis sebesar angka tersebut.
Review lain juga menyimpulkan adhesi cukup sering ditemukan setelah persalinan caesar dan insidennya meningkat pada operasi berikutnya. Karena itu, riwayat jumlah operasi menjadi informasi penting ketika seseorang merencanakan kehamilan dan persalinan berikutnya.
Satu kali operasi caesar tidak otomatis berarti seseorang akan mengalami perlengketan yang bermasalah. Namun, penelitian secara umum menunjukkan kemungkinan menemukan adhesi meningkat pada pasien yang menjalani caesar berulang.
Logikanya cukup straightforward karena setiap operasi kembali menyebabkan manipulasi dan penyembuhan jaringan. Meski demikian, tingkat adhesi tetap dapat berbeda antarindividu dan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi pasien dan teknik operasi.
Karena itu, jumlah operasi caesar sebelumnya menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan dokter ketika mempersiapkan operasi berikutnya. Informasi tersebut membantu tim medis mengantisipasi kemungkinan anatomi yang lebih kompleks dibanding operasi pertama.
Apakah Adhesi Selalu Menimbulkan Gejala?
No, dan ini menjadi poin penting agar pembahasan adhesi tidak berubah menjadi fearmongering. Seseorang dapat memiliki adhesi tanpa menyadarinya dan tanpa mengalami keluhan yang membutuhkan penanganan.
Adhesi baru menjadi perhatian klinis ketika menyebabkan masalah tertentu atau membuat prosedur operasi berikutnya menjadi lebih kompleks. Literatur mengaitkan adhesi pascaoperasi dengan beberapa komplikasi seperti nyeri abdomen atau panggul kronis, obstruksi usus, masalah kesuburan tertentu, dan kesulitan saat operasi ulang.
Namun hubungan antara sebuah keluhan dan adhesi tidak selalu simple. Nyeri panggul, misalnya, memiliki banyak kemungkinan penyebab sehingga seseorang tidak bisa menyimpulkan sendiri bahwa rasa sakit setelah caesar pasti berasal dari perlengketan.
Salah satu dampak adhesi yang paling jelas secara klinis terlihat ketika pasien menjalani operasi berikutnya. Jaringan yang seharusnya mudah dipisahkan bisa menjadi melekat sehingga dokter membutuhkan waktu tambahan untuk mencapai rahim secara aman.
Konsensus Asia-Pasifik menyebut adhesi dapat mempersulit akses ke rongga abdomen dan panggul ketika operasi caesar diulang. Penelitian yang dirangkum dalam konsensus tersebut menemukan median waktu dari sayatan kulit sampai kelahiran bayi lebih panjang pada operasi caesar berulang dibanding operasi pertama.
Review mengenai adhesi setelah caesar juga menyimpulkan perlengketan dapat meningkatkan waktu operasi dan waktu menuju kelahiran bayi. Selain itu, adhesi berhubungan dengan meningkatnya risiko cedera kandung kemih pada repeat cesarean.
Kandung Kemih Termasuk Organ yang Bisa Terdampak
Rahim dan kandung kemih secara anatomi berada berdekatan, sehingga area ini mendapat perhatian khusus pada operasi caesar berulang. Adhesi dapat terbentuk antara rahim dan kandung kemih sehingga pemisahan jaringan saat operasi selanjutnya menjadi lebih challenging.
Konsensus 2024/2025 mengutip penelitian terhadap 14.757 persalinan caesar yang menemukan 42 cedera kandung kemih, atau sekitar 0,28 persen. Dalam penelitian tersebut, riwayat caesar dan keberadaan adhesi lebih sering ditemukan pada kelompok yang mengalami cedera kandung kemih, meskipun risiko absolut cedera tetap rendah.
Angka tersebut penting dibaca secara proporsional. Adhesi meningkatkan kompleksitas operasi dan dapat berkaitan dengan risiko cedera, tetapi bukan berarti kandung kemih pasti mengalami masalah pada setiap pasien dengan riwayat caesar.
Apakah Perlengketan Bisa Mengganggu Usus?
Adhesi setelah operasi abdomen atau panggul juga dapat melibatkan usus. Dalam keadaan tertentu, jaringan tersebut dapat menarik atau menghambat pergerakan usus sehingga berkontribusi terhadap obstruksi usus.
Obstruksi usus merupakan komplikasi serius, tetapi pembaca perlu membedakan antara “bisa terjadi” dengan “pasti terjadi”. Sebagian besar pembahasan mengenai adhesi setelah caesar tidak berarti setiap pasien akan mengalami penyumbatan usus.
Keluhan seperti nyeri perut berat, perut sangat kembung, muntah, atau kesulitan buang gas dan buang air besar membutuhkan evaluasi medis, khususnya bila berat atau muncul secara akut. Jangan mencoba menentukan penyebabnya hanya berdasarkan riwayat operasi.
Benarkah Adhesi Bisa Menyebabkan Nyeri Panggul?
Adhesi telah dikaitkan dengan nyeri abdomen maupun panggul kronis dalam literatur medis. Konsensus ahli juga memasukkan chronic abdominal and pelvic pain sebagai salah satu kemungkinan konsekuensi adhesi pascaoperasi.
Tetapi menemukan penyebab nyeri panggul bisa quite complicated. Endometriosis, gangguan saluran cerna, masalah otot dasar panggul, infeksi, kondisi saluran kemih, dan berbagai penyebab lain dapat memberikan gejala yang mirip.
Karena itu, riwayat caesar plus nyeri tidak otomatis sama dengan diagnosis adhesi. Dokter perlu melihat karakteristik keluhan, melakukan pemeriksaan, dan bila diperlukan menentukan pemeriksaan lanjutan berdasarkan dugaan klinis.
Perlengketan dan Kesuburan, Ada Hubungannya?
Adhesi panggul akibat operasi secara umum dapat berhubungan dengan infertilitas apabila perlengketan memengaruhi anatomi organ reproduksi. Konsensus Asia-Pasifik menyatakan terdapat bukti bahwa infertilitas dapat terjadi sekunder akibat adhesi dari operasi sebelumnya, terlepas dari penyakit yang awalnya menjadi alasan operasi.
Namun, hubungan khusus antara satu operasi caesar dan infertilitas berikutnya tidak boleh disederhanakan menjadi hubungan sebab-akibat untuk setiap pasien. Kesuburan dipengaruhi usia, ovulasi, kondisi tuba falopi dan rahim, faktor pasangan, endometriosis, serta banyak faktor lainnya.
Jadi, pernah caesar bukan berarti akan sulit hamil lagi. Jika kehamilan belum terjadi setelah periode mencoba yang sesuai dengan usia dan kondisi pasangan, evaluasi kesuburan secara menyeluruh jauh lebih useful daripada langsung menyalahkan bekas operasi.
Interesting part-nya, beberapa penelitian mencoba melihat apakah penampilan bekas luka pada kulit dapat memberikan petunjuk mengenai adhesi di dalam tubuh. Meta-analisis 2023 menilai karakteristik bekas luka dan pemeriksaan ultrasonografi tertentu sebagai metode untuk memprediksi adhesi sebelum repeat cesarean.
Meta-analisis tersebut menemukan depressed scar atau bekas luka yang tampak cekung memiliki hubungan tertentu dengan kemungkinan adhesi. Pemeriksaan ultrasonografi menggunakan sliding sign juga menunjukkan nilai prediktif, tetapi metode ini bukan alat yang sempurna untuk memastikan ada atau tidaknya adhesi.
Meta-analisis terdahulu juga menemukan hubungan antara bekas luka cekung dan adhesi intraabdomen. Namun penelitinya menekankan bahwa jumlah studi masih terbatas dan penelitian tambahan diperlukan untuk memperkuat temuan tersebut.
Ini juga menjelaskan mengapa tampilan bekas caesar di kulit tidak menceritakan seluruh kondisi jaringan di dalam perut. Luka luar bisa terlihat tipis dan rapi, sementara proses penyembuhan internal mempunyai dinamika tersendiri.
Sebaliknya, bekas luka kulit yang cukup terlihat juga tidak membuktikan adanya adhesi organ yang berbahaya. Studi mengenai karakteristik scar berbicara mengenai kemampuan prediksi secara statistik, bukan metode self-diagnosis melalui cermin.
Jadi, jangan panic scrolling hanya karena scar terlihat cekung atau berbeda dibanding foto orang lain. Bila ada kekhawatiran, particularly sebelum operasi ulang, assessment dari dokter jauh lebih meaningful.
Bisakah Perlengketan Setelah Caesar Dicegah?
Dokter dapat menerapkan prinsip pembedahan untuk berusaha meminimalkan pembentukan adhesi, seperti teknik operasi yang cermat dan kontrol perdarahan yang baik. Konsensus Asia-Pasifik menempatkan meticulous hemostasis dan teknik bedah minimal invasif sebagai bagian penting dari strategi mengurangi adhesi.
Ada pula produk adhesion barrier yang dirancang untuk memisahkan sementara permukaan jaringan selama periode awal penyembuhan. Namun, khusus untuk operasi caesar, bukti mengenai manfaat penggunaan barrier secara rutin masih terbatas dan tidak sesederhana “pasang barrier berarti bebas adhesi”.
Review yang membahas pencegahan adhesi setelah caesar menyatakan bukti yang tersedia belum mendukung penggunaan adhesion barrier secara rutin pada setiap persalinan caesar. Keputusan penggunaannya merupakan ranah klinis yang mempertimbangkan kondisi operasi dan pasien.
Kalau Sudah Ada Adhesi, Apakah Harus Dioperasi Lagi?
Tidak semua adhesi perlu ditangani dengan operasi. Kalau perlengketan tidak menimbulkan masalah klinis, keberadaannya sendiri tidak otomatis menjadi alasan melakukan prosedur tambahan.
Operasi untuk melepaskan adhesi disebut adhesiolysis, tetapi melakukan operasi kembali juga berarti jaringan mengalami trauma pembedahan kembali. Karena itu, keputusan melakukan tindakan harus mempertimbangkan manfaat, risiko, gejala, dan kondisi individual pasien.
Situasinya berbeda apabila adhesi ditemukan ketika dokter memang sedang melakukan operasi untuk indikasi lain. Dokter dapat menangani jaringan tersebut sesuai kebutuhan untuk mendapatkan akses yang aman terhadap organ yang menjadi target operasi.
Riwayat beberapa kali caesar memang relevant karena penelitian menunjukkan frekuensi dan keparahan adhesi cenderung meningkat dengan jumlah operasi. Namun, data populasi tersebut tidak bisa digunakan untuk memastikan kondisi seorang pasien tanpa evaluasi individual.
Dokter kandungan biasanya mempertimbangkan riwayat operasi sebelumnya ketika merencanakan persalinan. Catatan operasi terdahulu, alasan dilakukan caesar, jumlah operasi, kondisi kehamilan sekarang, serta faktor kesehatan ibu dan janin semuanya dapat menjadi bagian dari planning.
Jadi, pernah caesar dua atau tiga kali bukan alasan untuk auto panic. Informasi tersebut justru sebaiknya disampaikan lengkap kepada dokter agar persiapan persalinan berikutnya dapat dilakukan dengan proper.
Setelah pemulihan operasi, konsultasikan keluhan yang menetap atau mengganggu seperti nyeri perut atau panggul yang tidak membaik, khususnya bila mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan diperlukan karena keluhan tersebut memiliki banyak kemungkinan penyebab dan adhesi hanyalah salah satunya.
Keluhan akut seperti nyeri perut hebat, muntah berulang, perut membesar atau sangat kembung, demam, perdarahan abnormal, atau kesulitan buang gas dan tinja memerlukan perhatian medis lebih cepat. Gejala seperti ini tidak spesifik untuk adhesi dan bisa menandakan kondisi lain yang juga membutuhkan penanganan.
Bagi yang sedang merencanakan kehamilan setelah beberapa kali caesar, diskusi dengan dokter kandungan juga dapat membantu. Fokusnya bukan hanya adhesi, tetapi keseluruhan risiko dan pilihan persalinan berdasarkan riwayat medis individual.
Bottom line-nya, operasi caesar memang dapat diikuti pembentukan adhesi atau perlengketan jaringan di dalam abdomen dan panggul. Risiko dan tingkat keparahannya cenderung meningkat seiring bertambahnya operasi caesar, tetapi tidak setiap adhesi menyebabkan gejala atau komplikasi.
Pada kasus tertentu, adhesi dapat membuat operasi berikutnya lebih kompleks dan dikaitkan dengan nyeri panggul, obstruksi usus, masalah kesuburan tertentu, serta risiko cedera organ ketika dilakukan operasi ulang. Namun risiko tersebut harus dilihat secara individual dan tidak berarti operasi caesar pasti menyebabkan salah satu masalah tersebut.
Jadi, takeaway-nya bukan “caesar itu berbahaya”, melainkan caesar adalah operasi mayor yang memiliki manfaat sekaligus potensi komplikasi sebagaimana prosedur bedah lainnya. Bila operasi memang diperlukan secara medis, pembahasan mengenai manfaat, risiko, dan rencana persalinan bersama dokter kandungan merupakan approach yang paling proper.
Referensi
- Awonuga AO, et al. Postoperative Adhesion Development Following Cesarean and Open Intra-Abdominal Gynecological Operations: A Review. Reproductive Sciences, 2011.
- Asia-Pacific Expert Panel. Adhesion barriers in gynecologic surgeries and cesarean section: An Asia-Pacific expert panel consensus recommendation. International Journal of Gynecology & Obstetrics, 2024/2025.
- Bates GW, et al. Preventing Adhesions in Obstetric and Gynecologic Surgical Procedures. Reviews in Obstetrics & Gynecology, 2009.
- Adhesions following cesarean delivery: a review of their occurrence, consequences and preventative management using adhesion barriers. PubMed, 2013.
- Adhesion prevention after cesarean delivery: evidence, and lack of it. PubMed, 2014.
- Shafti V, et al. Prediction of intraperitoneal adhesions in repeated cesarean sections: A systematic review and meta-analysis. European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology, 2023.
- Cesarean wound scar characteristics for the prediction of pelvic adhesions: a meta-analysis of observational studies. PubMed, 2016.