Ringkasan: BMKG memprediksi puncak kemarau 2026 jatuh pada Juli-September, bersamaan dengan El Nino yang berpeluang mencapai kategori kuat. Kombinasi ini menurunkan kualitas udara dan berpotensi menaikkan kasus ISPA, terutama di wilayah selatan khatulistiwa.
Apa itu Puncak El Nino Juli-September 2026?

Puncak El Nino Juli-September 2026 adalah periode ketika fenomena iklim El Nino bertepatan dengan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia. BMKG memperkirakan curah hujan pada Juli hingga Oktober 2026 berada di bawah normal dibandingkan rata-rata klimatologis, sehingga kualitas udara menurun dan risiko gangguan pernapasan meningkat.
Mengapa Fenomena Ini Penting Diwaspadai di 2026?

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut peluang El Nino mencapai kategori kuat sekitar 62 persen, sementara peluang intensitas moderatnya jauh lebih tinggi. BMKG menyebut wilayah paling berisiko meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan. Di wilayah-wilayah ini, kekeringan berkepanjangan memicu tiga masalah sekaligus: kebakaran hutan dan lahan, penumpukan polutan di udara, serta lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut. Epidemiolog Dicky Budiman menjelaskan bahwa El Nino meningkatkan berbagai faktor risiko lingkungan yang akhirnya berdampak pada kesehatan, mulai dari ISPA hingga penyakit kardiovaskular akibat paparan partikel halus PM2.5.
Fenomena serupa pernah terjadi pada El Nino 2019 dan 2023, namun tahun ini kondisinya lebih mengkhawatirkan: luas karhutla hingga Mei 2026 tercatat sekitar 81.000 hektare, meningkat dibandingkan periode yang sama saat El Nino 2019 maupun 2023.
Sebaran Wilayah Puncak Kemarau 2026 (Data BMKG)

| Bulan | Zona Musim (ZOM) Terdampak | % Daratan Indonesia | Wilayah Utama |
|---|---|---|---|
| Juli 2026 | 83 ZOM | 12,26% | Sebagian Sumatra, Kalimantan, Jawa, NTT selatan, Sulawesi Barat utara |
| Agustus 2026 | 369 ZOM | 48,84% | Jawa, Bali, NTB, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua |
| September 2026 | 169 ZOM | 25,41% | Babel, Lampung, Sumsel, sisa Jawa, Kalimantan selatan, Sulawesi, Papua Pegunungan |
Sumber: BMKG, dikutip Kompas.com, 11 Juni 2026.
Sekitar 200 ZOM atau 11,83 persen daratan Indonesia bahkan sudah lebih dulu memasuki musim kemarau sejak akhir Mei 2026, mencakup sebagian Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Papua.
Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

Selain ISPA, BMKG dan ahli kesehatan menyoroti beberapa risiko lain selama puncak kemarau panjang ini:
| Risiko Kesehatan | Pemicu | Kelompok Rentan |
|---|---|---|
| ISPA | Polusi udara, asap karhutla, debu kering | Anak-anak, lansia, penderita asma |
| Heatstroke / penyakit akibat panas | Suhu ekstrem berkepanjangan | Pekerja luar ruangan, lansia |
| Gangguan kardiovaskular | Paparan PM2.5 memicu peradangan sistemik | Penderita jantung & hipertensi |
| Iritasi mata & kulit | Debu dan kabut asap | Semua kelompok usia |
Catatan penting: informasi ini bersifat edukatif dan bukan pengganti diagnosis medis. Konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan dokter atau profesional kesehatan berlisensi.
Jika Anda rutin berolahraga di luar ruangan, risiko paparan polusi ini juga perlu diperhitungkan — baca panduan kami soal bahaya olahraga saat kemarau untuk menyesuaikan jadwal latihan selama musim kering berlangsung.
Cara Melindungi Diri dari Dampak ISPA Saat Kemarau — Step by Step

- Pantau kualitas udara harian: cek indeks kualitas udara (AQI) di wilayah Anda sebelum beraktivitas di luar rumah.
- Gunakan masker saat kualitas udara memburuk: BMKG dan Kemenkes merekomendasikan masker terutama di kawasan dekat titik karhutla.
- Batasi aktivitas luar ruangan pada siang hari: hindari jam-jam dengan konsentrasi polutan tertinggi, biasanya siang hingga sore.
- Jaga hidrasi dan daya tahan tubuh: konsumsi air cukup dan nutrisi seimbang untuk memperkuat sistem imun menghadapi ISPA maupun risiko flu musiman seperti H3N2.
- Segera periksa ke fasilitas kesehatan bila muncul gejala: batuk berkepanjangan, sesak napas, atau demam tinggi perlu penanganan medis tanpa ditunda.
- Perhatikan kelompok rentan di rumah: anak-anak dan lansia sebaiknya mendapat perlindungan ekstra, termasuk memastikan imunisasi anak tetap berjalan sesuai jadwal.
- Ikuti anjuran vaksinasi bagi kelompok rentan: langkah ini relevan mengingat vaksin influenza bagi kelompok rentan kini makin dianjurkan di tengah cuaca ekstrem.
Fenomena kualitas udara buruk ini sejalan dengan temuan kami sebelumnya soal polusi udara dan dampaknya bagi tubuh — pola risikonya serupa, hanya pemicunya kini ditambah kekeringan panjang akibat El Nino. Kewaspadaan terhadap gangguan kesehatan musiman juga pernah kami bahas saat kasus hantavirus meningkat di Indonesia, yang menunjukkan pola serupa: kondisi lingkungan berubah, risiko kesehatan baru pun muncul.
FAQ — Puncak El Nino Juli-September 2026
Kapan puncak El Nino dan kemarau 2026 terjadi?
BMKG memprediksi puncak kemarau berlangsung bertahap: Juli (83 ZOM), Agustus (369 ZOM, puncak terluas), dan September (169 ZOM), dengan dampak El Nino terasa hingga Oktober 2026.
Bagaimana cara melindungi diri dari ISPA saat kemarau panjang?
Pantau kualitas udara, gunakan masker saat polusi tinggi, batasi aktivitas luar ruangan siang hari, jaga hidrasi, dan segera periksa ke fasilitas kesehatan bila muncul gejala pernapasan.
Apakah El Nino 2026 lebih kuat dibanding tahun sebelumnya?
BMKG menyebut peluang intensitas kuat mencapai 62 persen, dengan luas karhutla per Mei 2026 sudah melampaui periode yang sama pada El Nino 2019 dan 2023.