lifeso.me, 21 APRIL 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Sanaa, Yaman — 21 April 2025
Sebuah serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat di ibu kota Yaman, Sanaa, pada hari Minggu, telah menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 30 warga sipil lainnya. Serangan ini menargetkan kawasan Farwa, sebuah area komersial yang padat penduduk di pusat kota, dan menjadi bagian dari kampanye militer yang lebih luas oleh Amerika Serikat terhadap kelompok pemberontak Houthi yang berkuasa di sebagian besar wilayah utara Yaman.
Serangan ini menjadi salah satu insiden paling mematikan dalam beberapa pekan terakhir, yang memperlihatkan peningkatan dramatis dalam keterlibatan militer AS di kawasan tersebut. Sejumlah saksi mata menggambarkan kehancuran besar, dengan puing-puing bangunan berserakan dan ambulans yang berlalu-lalang membawa korban ke rumah sakit yang kewalahan.
LATAR BELAKANG KONFLIK: HOUTHI VS KOALISI SAUDI-AMERIKA

Konflik di Yaman dimulai pada tahun 2014 ketika kelompok Houthi, yang berasal dari minoritas Zaidi Syiah di wilayah utara Yaman, menggulingkan pemerintahan yang diakui secara internasional dan mengambil alih Sanaa. Pada 2015, koalisi militer yang dipimpin oleh Arab Saudi—dengan dukungan logistik, intelijen, dan senjata dari Amerika Serikat—meluncurkan intervensi untuk memulihkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.
Kelompok Houthi didukung oleh Iran, baik secara ideologis maupun dalam hal senjata dan pelatihan. Sementara itu, Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Teluk memandang Houthi sebagai ancaman terhadap stabilitas kawasan dan jalur perdagangan internasional, khususnya di Laut Merah dan Teluk Aden.
TUJUAN SERANGAN UDARA AS: MEREDAM SERANGAN DI LAUT MERAH

Sejak akhir 2023, Houthi telah melancarkan lebih dari 100 serangan terhadap kapal dagang internasional yang melintasi Laut Merah. Mereka menyatakan bahwa serangan ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina dan protes terhadap intervensi Barat di Timur Tengah. Beberapa serangan Houthi telah menyebabkan penenggelaman kapal, kerusakan besar, dan kematian pelaut asing.
Sebagai tanggapan, Amerika Serikat meluncurkan kampanye udara dengan tujuan:
-
Menghancurkan infrastruktur militer Houthi seperti peluncur rudal dan pangkalan udara.
-
Mengganggu jalur pasokan senjata dari Iran ke Yaman.
-
Menekan kemampuan Houthi untuk mengancam pelayaran internasional.
Serangan udara pada 21 April ini disebut sebagai bagian dari gelombang baru serangan presisi yang ditujukan untuk “melemahkan kemampuan ofensif” kelompok tersebut.
RENTETAN SERANGAN: DARI SANA’A HINGGA HODEIDA

Serangan terbaru bukanlah satu-satunya yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Serangkaian serangan udara juga dilaporkan di:
-
Hodeida – Pelabuhan penting di Laut Merah yang dikuasai Houthi. Pada 18 April, serangan udara di pelabuhan bahan bakar Ras Isa menewaskan sedikitnya 74 orang dan melukai 171 lainnya, menurut pejabat Houthi.
-
Amran, Marib, dan Saada – Wilayah ini menjadi pusat logistik dan pelatihan Houthi. Serangan udara di lokasi-lokasi ini dilaporkan menargetkan gudang senjata, pusat peluncuran drone, dan fasilitas komunikasi.
Namun, banyak dari target ini berada dekat dengan permukiman sipil, yang menimbulkan risiko besar terhadap warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik.
DAMPAK KEMANUSIAAN: WARGA SIPIL KORBAN UTAMA

Lembaga kemanusiaan di Yaman, termasuk Komite Palang Merah Internasional (ICRC) dan Médecins Sans Frontières (MSF), menyuarakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya jumlah korban sipil. Menurut laporan medis dari Rumah Sakit Al-Thawra di Sanaa, banyak korban yang mengalami luka bakar, trauma akibat ledakan, serta amputasi.
Fasilitas kesehatan di Sanaa dan wilayah sekitarnya kini dalam kondisi kritis:
-
Kekurangan obat-obatan esensial, termasuk antibiotik dan anestesi.
-
Kurangnya dokter spesialis dan tenaga medis terlatih.
-
Serangan terhadap infrastruktur membuat akses listrik dan air bersih terganggu.
Lebih dari 21 juta orang di Yaman—sekitar tiga perempat populasi—membutuhkan bantuan kemanusiaan. Serangan–serangan terbaru hanya memperburuk kondisi yang sudah rapuh akibat konflik bertahun-tahun, blokade ekonomi, dan bencana kelaparan.
RESPONS INTERNASIONAL: KONDEMNASI DAN KEKHAWATIRAN ESKALASI

Sejumlah negara, termasuk Iran, Rusia, dan Turki, mengutuk serangan udara AS sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan integritas wilayah Yaman. Iran menuduh Washington memperluas “perang proksi” di kawasan dan menempatkan warga sipil sebagai korban utama.
Di sisi lain, Amerika Serikat membela operasinya sebagai bentuk “aksi defensif yang sah” untuk melindungi pelayaran internasional dan meredam ancaman Houthi terhadap stabilitas global. Namun, PBB menyatakan keprihatinan serius dan menyerukan penyelidikan independen terhadap serangan yang menimbulkan korban jiwa di kalangan sipil.
Analis geopolitik memperingatkan bahwa eskalasi militer ini dapat memicu:
-
Peningkatan dukungan Iran terhadap Houthi.
-
Balasan militer lebih agresif dari Houthi ke kapal asing.
-
Ketegangan antara AS dan negara-negara kawasan, termasuk potensi melibatkan Israel, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
PENUTUP: APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA?
Dengan semakin intensifnya serangan udara dan memburuknya kondisi sipil di Yaman, masa depan konflik ini tampak semakin suram. Upaya diplomatik dari PBB dan negara-negara mediator seperti Oman dan Qatar belum menunjukkan hasil signifikan.
Sementara itu, masyarakat sipil Yaman terus menjadi korban utama dalam perang yang tak kunjung berakhir. Suara-suara dari lapangan, baik dari dokter, guru, hingga warga biasa, menggambarkan penderitaan yang tak terbayangkan dan harapan yang semakin menipis akan perdamaian.
“Kami hanya ingin hidup damai, membesarkan anak-anak kami, dan tidak lagi mendengar suara pesawat tempur di langit setiap malam,” kata seorang ibu yang kehilangan suaminya dalam serangan di Sanaa.
BACA JUGA: Presiden Prabowo Subianto: Ibadah Haji Harus Bebas dari Praktik Manipulatif