Pilates selama ini mungkin lebih familiar sebagai olahraga yang identik dengan postur tubuh, fleksibilitas, core strength, dan gerakan yang terlihat effortless di media sosial. Namun di balik gerakannya yang controlled dan aesthetically pleasing, Pilates ternyata juga mempunyai sisi lain yang cukup interesting, yakni potensinya dalam mendukung kondisi psikologis dan membangun hubungan yang lebih positif antara tubuh dengan pikiran.
lifeso – Sejumlah penelitian menunjukkan latihan Pilates berkaitan dengan peningkatan beberapa aspek psychological well-being. Systematic review dan meta-analysis terbaru yang diterbitkan pada 2026, misalnya, menemukan bukti yang lebih konsisten mengenai manfaat Pilates terhadap quality of life dan self-esteem, meskipun efeknya terhadap indikator mental health secara umum masih perlu diteliti lebih lanjut.
Hal tersebut membuat Pilates menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai exercise untuk mendapatkan tubuh lebih fleksibel atau postur lebih baik. Pola latihan yang membutuhkan konsentrasi, pengaturan napas, koordinasi, dan awareness terhadap tubuh dapat menciptakan pengalaman olahraga yang berbeda dibandingkan aktivitas fisik yang semata-mata berorientasi pada kecepatan atau jumlah kalori
Pilates dikembangkan dengan prinsip yang menekankan hubungan antara tubuh dan pikiran. Dalam setiap gerakan, seseorang tidak sekadar diminta menggerakkan tangan atau kaki, tetapi juga memperhatikan posisi tubuh, mengontrol pernapasan, menjaga stabilitas core, serta mempertahankan kualitas gerakan.
Basically, tubuh memang bergerak, tetapi pikiran tidak bisa benar-benar “pergi” ke tempat lain. Ketika perhatian terpecah, gerakan dapat kehilangan kontrol atau posisi tubuh menjadi kurang tepat sehingga seseorang secara natural terdorong untuk kembali fokus pada apa yang sedang dilakukan.
Karakter tersebut membuat Pilates sering dimasukkan dalam kelompok mind-body exercise bersama aktivitas seperti yoga dan tai chi. Berbeda dengan olahraga yang gerakannya bisa dilakukan secara relatively otomatis setelah terbiasa, Pilates menuntut body awareness yang cukup tinggi dalam berbagai tahap latihan.
Fokus pada Gerakan Bisa Membantu Pikiran Lebih Present
Salah satu alasan Pilates berpotensi membantu membangun mindset lebih positif adalah kemampuan latihan ini untuk membawa perhatian kembali kepada present moment. Saat melakukan gerakan tertentu, seseorang perlu memperhatikan napas, posisi tulang belakang, kontraksi otot, keseimbangan, dan tempo secara bersamaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, pikiran manusia sering berada beberapa langkah lebih jauh dari kondisi sekarang. Kita memikirkan pekerjaan besok, percakapan kemarin, deadline minggu depan, komentar orang lain, atau bahkan sesuatu yang belum tentu terjadi, sehingga kepala terasa constantly crowded.
Pilates memberikan semacam ruang untuk mengalihkan perhatian dari mental noise tersebut kepada sensasi tubuh yang sedang terjadi. Efeknya mungkin berbeda pada setiap individu, tetapi latihan yang membutuhkan konsentrasi dapat menjadi kesempatan untuk mengambil temporary break dari pola pikiran yang terus berputar.
Pernapasan Menjadi Bagian Penting dalam Pilates
Breathing bukan sekadar pelengkap dalam Pilates karena pola pernapasan digunakan untuk mendukung kontrol dan koordinasi gerakan. Seseorang belajar kapan menarik napas, kapan mengembuskannya, sekaligus mempertahankan stabilitas tubuh selama menjalankan sebuah movement.
Kebiasaan memperhatikan napas tersebut secara tidak langsung membuat seseorang lebih aware terhadap kondisi tubuhnya sendiri. Ketika sedang tegang, terburu-buru, atau anxious, pola napas dapat berubah tanpa disadari, sementara latihan mind-body membantu seseorang mengenali kembali hubungan antara napas, ketegangan tubuh, dan keadaan emosional.
Namun Pilates tentu bukan magical solution yang membuat stres langsung hilang setelah satu sesi. Manfaat psikologisnya lebih reasonable dipahami sebagai bagian dari kombinasi aktivitas fisik, konsentrasi, pengalaman menguasai gerakan, interaksi sosial, serta waktu yang secara sengaja dialokasikan untuk merawat diri.
Ketertarikan ilmuwan terhadap hubungan Pilates dan kesehatan mental sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Meta-analysis pada 2018 terhadap sejumlah controlled trials menemukan Pilates dikaitkan dengan penurunan gejala depresi dan anxiety, berkurangnya fatigue, serta meningkatnya perasaan berenergi pada peserta penelitian.
Meski demikian, peneliti saat itu memberikan catatan penting karena jumlah penelitian yang tersedia masih sedikit, ukuran sampelnya relatif kecil, dan kualitas metodologinya bervariasi. Artinya, hasil tersebut promising tetapi tidak seharusnya langsung diterjemahkan menjadi klaim bahwa Pilates merupakan terapi universal untuk masalah kesehatan mental.
Penelitian yang lebih baru juga memberikan gambaran yang lebih nuanced. Systematic review dan meta-analysis 2026 yang mencakup 32 penelitian dengan total 1.264 peserta menemukan manfaat Pilates lebih konsisten pada indikator psikososial positif seperti quality of life dan self-esteem dibandingkan efeknya pada indikator psikologis negatif.
Self-Esteem Bisa Ikut Terbangun
Salah satu temuan yang particularly relevant dengan pembentukan mindset positif adalah self-esteem. Meta-analysis terbaru menemukan Pilates menunjukkan improvement yang signifikan pada self-esteem, meskipun peneliti tetap mengingatkan adanya variasi cukup besar antara metode dan karakteristik penelitian yang dianalisis.
Hal tersebut masuk akal jika dilihat dari bagaimana proses latihan berlangsung. Pada awalnya seseorang mungkin kesulitan mempertahankan keseimbangan atau melakukan gerakan tertentu, tetapi setelah berlatih secara konsisten tubuh perlahan mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya terasa difficult.
Progress kecil seperti mampu mengontrol gerakan, meningkatkan fleksibilitas, atau mempertahankan posisi lebih lama dapat menciptakan sense of accomplishment. Fokus akhirnya dapat bergeser dari “bagaimana tubuh saya terlihat” menjadi “apa yang ternyata mampu dilakukan tubuh saya.”
Dari Mengejar Hasil Menuju Menghargai Proses
Mindset positif tidak selalu berarti seseorang harus merasa happy sepanjang waktu. Salah satu bentuk pola pikir yang lebih sehat justru kemampuan menerima bahwa progress membutuhkan waktu dan kegagalan kecil merupakan bagian normal dari sebuah proses.
Pilates secara natural mengajarkan prinsip tersebut karena banyak gerakan tidak bisa langsung dikuasai dalam satu kali latihan. Tubuh membutuhkan waktu untuk membangun strength, mobility, koordinasi, dan control sehingga improvement biasanya muncul secara gradual.
Seseorang akhirnya belajar bahwa tidak bisa melakukan sebuah gerakan hari ini bukan berarti selamanya tidak mampu melakukannya. Cara berpikir seperti ini dapat menjadi pengalaman kecil mengenai growth mindset, yakni melihat kemampuan sebagai sesuatu yang bisa dikembangkan melalui proses dan latihan.
Pilates Mengajarkan Kita untuk Tidak Selalu Terburu-buru

Di tengah budaya hidup yang serba cepat, Pilates menawarkan sesuatu yang justru agak berlawanan. Banyak gerakannya dilakukan secara controlled sehingga kualitas gerakan menjadi lebih penting dibandingkan sekadar menyelesaikan repetition sebanyak mungkin.
Seseorang tidak mendapatkan banyak keuntungan hanya dengan melakukan gerakan lebih cepat. Sebaliknya, slowing down justru membuat otot bekerja dengan lebih terkontrol sekaligus memberikan kesempatan untuk memahami bagaimana tubuh merespons sebuah movement.
Kebiasaan tersebut bisa menjadi reminder bahwa tidak semua progress dalam hidup harus bergerak dengan kecepatan maksimal. Sometimes, bergerak lebih lambat tetapi sadar terhadap apa yang sedang dilakukan justru membuat perjalanan menjadi lebih sustainable.
Quality of Life Juga Menjadi Sorotan Penelitian
Selain self-esteem, quality of life menjadi salah satu aspek yang mendapatkan dukungan relatif konsisten dalam penelitian Pilates. Meta-analysis 2026 menyimpulkan Pilates menunjukkan manfaat signifikan terhadap quality of life pada berbagai kelompok peserta yang dianalisis.
Quality of life sendiri merupakan konsep yang cukup luas dan tidak hanya berarti seseorang merasa bahagia. Di dalamnya dapat mencakup persepsi terhadap kesehatan fisik, kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari, kondisi psikologis, hubungan sosial, serta bagaimana seseorang menilai kehidupannya secara keseluruhan.
Artinya, hubungan Pilates dengan pola pikir positif kemungkinan tidak berdiri melalui satu mekanisme sederhana. Tubuh yang lebih aktif, meningkatnya kemampuan fisik, kesempatan bersosialisasi, sense of achievement, serta waktu untuk fokus pada diri sendiri dapat saling berinteraksi membentuk pengalaman psikologis yang lebih positif.
Olahraga Secara Umum Memang Baik untuk Mental
Penting juga untuk memahami bahwa sebagian manfaat Pilates kemungkinan berasal dari fakta bahwa Pilates merupakan bentuk aktivitas fisik. Bukti ilmiah mengenai hubungan olahraga dengan kesehatan mental secara umum sudah jauh lebih luas dibandingkan penelitian khusus mengenai Pilates.
Umbrella review yang diterbitkan British Journal of Sports Medicine pada 2026 menganalisis 63 studi yang mencakup lebih dari 79.000 peserta. Hasilnya menunjukkan aktivitas olahraga secara keseluruhan berkaitan dengan penurunan gejala depresi dan anxiety, meskipun efeknya dapat berbeda berdasarkan jenis latihan, populasi, intensitas, dan setting olahraga.
Jadi, Pilates bukan satu-satunya exercise yang potentially memberikan psychological benefits. Bagi sebagian orang jogging mungkin terasa lebih refreshing, sementara orang lain menemukan ketenangan melalui berenang, strength training, yoga, bersepeda, atau sekadar berjalan kaki.
Pilates Bisa Membantu Membangun Hubungan Positif dengan Tubuh
Salah satu hal yang menarik dari Pilates adalah fokusnya terhadap function. Dalam sesi latihan, seseorang lebih sering diarahkan untuk memperhatikan bagaimana tubuh bergerak dibandingkan hanya memikirkan bagaimana tubuh terlihat di depan cermin.
Pendekatan tersebut berpotensi mengubah perspective terhadap olahraga. Exercise tidak lagi hanya dilakukan karena ingin menurunkan berat badan atau mengejar bentuk tubuh tertentu, tetapi karena ingin merasa lebih kuat, lebih mobile, lebih balanced, dan lebih nyaman menggunakan tubuh sendiri.
Perubahan perspektif seperti ini bisa menjadi bagian dari mindset yang lebih positif. Tubuh tidak lagi selalu ditempatkan sebagai “project” yang harus terus diperbaiki, melainkan sebagai sesuatu yang perlu dipahami, dilatih, dan dihargai berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.
Kelas Pilates Punya Unsur Sosial
Ada faktor lain yang terkadang overlooked ketika membicarakan manfaat olahraga untuk mental, yakni social interaction. Mengikuti kelas Pilates memungkinkan seseorang bertemu instructor dan peserta lain secara rutin, menciptakan struktur aktivitas serta rasa menjadi bagian dari sebuah lingkungan.
Bagi sebagian orang, memiliki jadwal kelas dua atau tiga kali seminggu dapat memberikan sesuatu yang ditunggu di tengah rutinitas pekerjaan. Bahkan percakapan sederhana sebelum atau sesudah latihan dapat menjadi bentuk interaksi sosial yang valuable, terutama bagi mereka yang kesehariannya lebih banyak dihabiskan bekerja sendiri.
Menariknya, meta-analysis 2026 menemukan format Pilates remote maupun tatap muka sama-sama menunjukkan potensi manfaat pada populasi dewasa secara umum. Namun untuk kelompok usia lanjut, sejumlah penelitian individual menunjukkan latihan dengan pengawasan langsung mungkin memberikan keuntungan tertentu.
Media sosial terkadang menciptakan impression bahwa Pilates hanya cocok untuk orang yang sudah fleksibel atau memiliki body control luar biasa. Padahal seseorang justru mengikuti latihan untuk secara gradual mengembangkan kemampuan tersebut.
Pemula bisa memulai dari gerakan dasar dengan level yang disesuaikan kemampuan tubuh. Instructor yang kompeten juga dapat memberikan modification sehingga seseorang tidak harus memaksakan diri mengikuti level peserta yang sudah berlatih selama bertahun-tahun.
Mindset membandingkan diri sendiri dengan orang lain justru dapat membuat olahraga kehilangan sebagian manfaatnya. Progress yang lebih meaningful biasanya muncul ketika seseorang membandingkan kemampuan dirinya sekarang dengan beberapa minggu atau beberapa bulan sebelumnya.
Menariknya, penelitian terbaru menunjukkan program Pilates dengan frekuensi relatif rendah, termasuk dalam beberapa studi yang dilakukan satu kali setiap minggu, tetap dikaitkan dengan improvement pada beberapa outcome psikososial. Namun karena protokol penelitian sangat bervariasi, belum ada formula universal mengenai frekuensi Pilates terbaik untuk mendapatkan manfaat psikologis.
Hal tersebut menjadi kabar cukup encouraging bagi orang yang jadwalnya padat. Memulai Pilates tidak necessarily berarti harus langsung membeli membership unlimited atau berlatih setiap hari supaya mendapatkan pengalaman positif dari aktivitas tersebut.
Yang lebih penting adalah menemukan pola latihan yang realistic dan sustainable. Olahraga yang dilakukan konsisten selama berbulan-bulan kemungkinan jauh lebih valuable daripada memaksakan latihan intens selama beberapa hari kemudian berhenti karena tubuh dan pikiran sudah overwhelmed.
Pilates memberikan kombinasi aktivitas fisik, konsentrasi, pernapasan, body awareness, pembelajaran gerakan, dan sense of progress yang berpotensi mendukung pengalaman psikologis positif.
Bukti ilmiah terbaru juga memberikan dasar yang cukup interesting. Review terhadap 32 penelitian menemukan manfaat yang lebih konsisten terhadap quality of life dan self-esteem, sementara bukti untuk depresi, anxiety, dan general mental health masih bervariasi sehingga penelitian lebih lanjut tetap diperlukan.
Dengan kata lain, perubahan mindset mungkin bukan datang karena Pilates mempunyai satu gerakan rahasia yang membuat seseorang mendadak menjadi positive thinker. Perubahan tersebut lebih mungkin tumbuh dari kebiasaan hadir pada saat ini, memahami tubuh, menerima proses, menghargai progress kecil, dan menyadari bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan.
Pada akhirnya, mungkin lesson terbesar dari Pilates justru cukup sederhana. Kita tidak harus selalu bergerak lebih cepat untuk berkembang; terkadang belajar bernapas, bergerak dengan kontrol, dan memberikan waktu kepada diri sendiri untuk berproses sudah menjadi langkah kecil menuju cara memandang kehidupan yang lebih positif.
Referensi
Tsartsapakis I, Zafeiroudi A, Kouthouris C. Effects of Pilates-Based Exercise on Mental Health, Psychological Well-Being, and Quality of Life: A Systematic Review and Meta-Analysis. Sports (Basel), 2026.
Fleming KM, Herring MP. The Effects of Pilates on Mental Health Outcomes: A Meta-Analysis of Controlled Trials. Complementary Therapies in Medicine, 2018.
Xu M, et al. The Impact of Pilates Exercise for Depression Symptoms in Female Patients: A Systematic Review and Meta-Analysis. Medicine, 2023.
Munro NR, et al. Effect of Exercise on Depression and Anxiety Symptoms: Systematic Umbrella Review with Meta-Meta-Analysis. British Journal of Sports Medicine, 2026.